Selasa, 01 Juni 2010

ISRAEL LAKNATULLAH................................

Serangan Kapal Mavi Marmara :
Israel Tak Berperikemanusian Serang Bantuan Kemanusiaan

*
Kronologis, Video dan berbagai Fotonya.
*
VIDEO PENYERANGAN TENTARA ISRAEL KE KAPAL MAVI MARMARA

Pasukan Israel menyerang kapal pengangkut bantuan kemanusiaan “Mavi Marmara” yang berupaya menerobos blokade di perairan menuju Jalur Gaza. Kabar terakhir dari berbagai sumber menyebut 16 orang tewas dan lebih dari 30 orang cedera saat pasukan Israel melakukan serangan pada Senin pagi waktu setempat.

Kumpulan kapal itu diserang di perairan internasional atau 65 kilometer lepas pantai Gaza. Hasil tayangan televisi menunjukkan, kapal terkemuka dari rombongan kapal pengangkut bantuan kemanusiaan, Mavi Marmara, diserang oleh pasukan Israel yang masuk ke kapal setelah diterjunkan dari beberapa helikopter.

Wartawan Al Jazeera, Jamal Elshayyal, melaporkan, pasukan Israel menggunakan peluru tajam di dalam operasinya itu. Radio Angkatan Bersenjata Israel menyebutkan, pasukan Israel melepaskan tembakan setelah sempat berkonfrontasi dengan sejumlah orang di atas kapal yang membawa sejumlah benda tajam. Sementara itu, Gerakan Gaza Merdeka, penyelenggara dari gerakan bantuan kemanusiaan itu, menyebutkan, kapal-kapal pengangkut bantuan kemanusiaan telah ditarik ke kota Israel, Haifa, dan bukan ke Ashdod untuk menghindari kerumunan wartawan.

Penumpang Mavi mamara

Siapa Sajakah Penumpang Mavi Marmara?

Kampanye kemanusiaan terbesar menembus blokade Israel ke Palestina di Gaza, “Flotilla Perdamaian Gaza”, dilancarkan sekitar 600 aktivis pro Palestina seluruh dunia, yang 27 diantaranya adalah orang-orang terkemuka dari Inggris. Beberapa diantaranya adalah nama terkenal di dunia. Mereka itu sastrawan, sutradara film, politisi, dan wartawan dari Eropa, Timur Tengah, Amerika Serikat dan Kanada.

Di antara yang paling beken adalah Henning Mankell, pengarang serial novel kriminal laris, Wallander. Mankell berencana berbicara pada Festival Hay, Sabtu malam lalu, dan akan disiarkan langsung, tetapi tidak jadi karena koneksi satelit tiba-tiba hilang. Orang terkenal lainnya yang turut dalam flotilla itu adalah Huwaida Arraf, warga AS beribu Palestina dan berbapak Arab Israel. Arraf adalah pendiri International Solidarity Movement pada 2001, yang mengampanyekan penentangan terhadap aksi Israel di Tepi Barat dan Gaza. Dia ada di kapal flotilla perdamaian lainnya, “Challenger.” Orang kesohor lainnya yang serta dalam kampanye perdamaian itu adalah peraih Hadiah Nobel Perdamaian bidang sastra Maired Corrigan-Maguire. Maired adalah pendiri LSM Peace People di Irlandia Utara dan veteran dari kampanye-kampanye flotilla ke Gaza sebelumnya. Tahun lalu dia dipenjarakan oleh Israel setelah sebuah flotilla (armada damai) dihentikan dan diseret Israel. Wartawan asal Glasgow, Skotlandia, yang juga pembuat film dokumenter Hassan Ghani (24), ikut menumpangi Mavi Marmara, kapal laut Turki yang diserang tentara Israel itu. Dialah yang menyiarkan penyerangan pasukan komando Israel ke kapal itu, untuk PressTV.

Dalam satu cuplikan tayangan video di YouTube, Ghani melaporkan: “Ini MC Marmara, Hassan Ghani melaporkan untuk PressTV. Di depan kami sejumlah orang terluka, salah seorang diantaranya kritis. Dia terluka di kepalanya dan kami perkirakan dia bakal meninggal jika tidak secepatnya mendapatkan perawatan. Korban lain di depan saya berdiri ini terluka parah. Kami dilempari gas air mata dan granat kejut. Kami dikelilingi kapal-kapal perang (Israel). Kami diserang dari segala penjuru. Ini (tempat kami berada) perairan internasional, bukan perairan Israel, tidak masuk zona terlarang 68 mil. Kami telah diserang dengan amat ilegal di perairan internasional.”

Ayahnya, Haq Ghani, adalah pengusaha yang menjalankan bisnis jasa informasi yang islami bernama Noah’s Ark (Bahtera Nuh) Kepada BBC, dia mengaku telah menanyai Departemen Luar Negeri Inggris mengenai nasib anaknya, tapi Deplu Inggris itu tidak menjawab sepatah pun kata. Sandra Law, ibu dari Alex Harrison, perempuan Inggris berusia 31 tahun yang menumpang Challenger, mengatakan bahwa Departemen Luar Negeri Inggris telah menolak mentah-mentah untuk memberikan informasi atau bantuan untuk anaknya itu. “Mereka mempersulit kami. Kami menelepon mereka malam lalu untuk mengatakan bahwa flotilla telah diancam oleh Angkatan Laut Israel. Mereka benar-benar menolak membantu kami. Saya sungguh mencemaskan nasib Alex. Kami tidak tahu apa yang telah menimpanya. Namun Alex memang pembela hak asasi manusia berpengalaman dan sangat tepa salira.”

Orang-orang Inggris lainnya yang diyakini ikut Marmara adalah wartawan Jamal Elshayyal, produser televisi berusia 25 tahun dari Al-Jazeera seksi Bahasa Inggris. Dengan berani dia menyiarkan momen dramatis saat kapal perang Israel mengepung Marmara. Selain itu ada Kevin Ovenden, anggota Yayasan Viva Palestina yang juga menumpang Mavi Marmara. Kemudian Denis Healey, yang menakhodai armada-armada flotila sebelumnya, lalu Theresa McDermot dari Edinburghm dan Sarah Colborne, Direktur Kampanye pada “Palestine Solidarity Campaign.”

International Solidarity London mengirimkan Fatima Mohammed. Dia juga menumpang Mavi Marmara. Masih ada lagi Alexander Evangelou, Hasan Nowarah, dan Gehad Sukker – manajer restoran cepat saji pizza dari Altrincham di Cheshire yang asli orang Gaza. Kemudian masih ada Peter Venner dari Ryde di Pulau Wight, yang melaut bersama kekasihnya, Rachel Bridgeland.

Juru bicara Deplu Inggris menolak mengonfirmasi keberadaan mereka, bahkan untuk sekedar memastikan berapa warga Inggris yang ikut flottila perdamaian ke Gaza itu. Caoimhe Butterly, aktivis perdamaian dari Irlandia yang pernah tertembak dan terluka di Tepi Barat pada 2002 setelah nekad menghalangi laju tank-tank Israel, juga menaiki Marmara.

Dari Jerman, tiga orang pemimpin parlemen, masing-masing Annette Groth, juru bicara kebijakan HAM, Inge Höger yang adalah anggota komisi pertahanan dan kesehatan, dan Norman Paech yang juga profesor hukum pidana di Hamburg, juga ada di Mavi Marmara.Mereka kabarnya, menumpang kapal itu bersama dua anggota parlemen Israel Knesset dari Arab Israel, yang salah satunya adalah Haneen Zoubi, warga negara Israel.

Laman Free Gaza Movement mengeluarkan daftar para aktivis yang ikut flotilla. Mereka berasal dari Belanda, Belgia, AS, Irlandia, Inggris, Yunani, Polandia, Palestina dan Jerman. Sebagian besar mereka berada di kapal Turki Mavi Marmara, termasuk aktivis Raed Salah yang dibebaskan bulan ini setelah dinyatakan terlibat dalam kerusuhan Yerusalem pada 2007.

Penumpang tertua di armada damai itu adalah David Schermerhorn (80), produser film dari Amerika yang karyanya diantaranya adalah “City of Ghosts.” Korban selamat Genosida Yahudi pada Perang Dunia Kedua, yang kini berusia 85 tahun, Hedy Epstein, di saat-saat terakhir memutuskan tidak turut dalam pelayaran kemanusiaan itu.Epstein, yang kini tinggal di AS setelah meninggalkan negara kelahirannya Jerman pada 1939, sebelum kemudian orangtua dan keluarganya meninggal di kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz, aktif membela Palestina.

Dia kini berkantor di Siprus, di salah satu markas Free Gaza Movement. Dia berusaha mencari tahu apa yang telah menimpa para penumpang flotilla yang diserang Israel itu. Penumpang kapal perdamaian lainnya adalah Giorgos Klontzas, pelaut profesional asal Yunani, dan aktivis Palestina Lubna Masarwa.

Ewa Jasiewicz, aktivis Polandia dan wartawan lepas, yang tahun lalu ikut menyumbang koran The Guardian untuk testimoni grafikal mengenai pengalamannya di Gaza saat dibombardemen Israel, juga ada di Marmara. Media asing lainnya yang turut dalam kapal itu adalah termasuk wartawan terkenal Pakistan, Syed Talat Hussain dari Televisi Aaj, yang pergi bersama wartawan Pakistan lainnya, Raza Mahmood Agha.

Indonesia sendiri ikut dalam kampanye damai yang dituduh Israel hendak mendelegitimasi sanksi terhadap Gaza itu. Mereka adalah para aktivis kemanusiaan dari MER-C dan sejumlah wartawan. Dengan latar belakang penumpang kapal seperti itu, masuk akal tidak mereka menyerang pasukan khusus Israel? Sangat wajar kan dunia marah besar pada negara yang paling sering membuat ulah itu?

15 Orang dari Kapal Free Gaza Movement Gabung Mavi Marmara

15 belas orang peserta kafilah Freedom Flotilla yang berangkat dari Yunani dengan kapal kecil bernama Challenger II, bergabung dengan Mavi Marmara. Kapal mereka mengalami kerusakan, sehingga harus kembali dan diperbaiki di Cyprus. Kelima belas orang dari kapal berbendera Amerika Serikat itu terdiri dari berbagai kewarganegaraan, Norwegia, Yunani, Inggris, Amerika, Malaysia dan beberapa lainnya.

Ketika kapal Challenger II merapat dengan Mavi Marmara, puluhan peserta yang sedang duduk-duduk di buritan yang cukup luas dan biasa dipakai shalat berjamaah, spontan berdiri dan meneriakkan takbir berkali-kali.Mustafa, salah seorang dari peserta kafilah di kapal Challenger II asal Malaysia, menjelaskan bahwa ia telah berada di Yunani sejak Kamis pekan silam, dan semalam kapalnya bertolak dari salah satu pelabuhan Yunani. “Mesinnya berkali-kali rusak, karena itu kami memutuskan untuk bergabung dengan Mavi Marmara, dan kapal kembali untuk perbaikan,” katanya.

Beberapa pemimpin delegasi membicarakan kemungkinan sabotase. Sebab kenyataannya, tiga lainnya yang berasal dari Yunani juga batal. “Jadi sekarang tinggal 5 kapal yang masih bergerak, sedangkan Rachel Corrie, kapal yang berangkat dari Irlandia juga masih terlambat,” jelas Usman Baktir, wartawan Aljazeera TV yang mendapatkan kabar lengkap dari kawan-kawannya di Yunani dan Irlandia. “Masalahnya,” kata salah seorang pemimpin delegasi yang tak mau disebut namanya, “Kalau Challenger II disabot, bukan tidak mungkin yang menyabot justru ikut naik ke Mavi Marmara di antara kelima belas orang itu dan melakukan hal-hal yang destruktif.”

Dmitris Plionis, ketua gerakan Ship to Gaza asal Yunani yang sudah sejak awal ikut di Mavi Marmara dan merupakan satu anggota dewan syuro kafilah Freedom Flotilla, mengakui kepada Sahabat Al-Aqsha & Hidayatullah.com bahwa dirinya tidak mampu mengidentifikasi seluruh peserta di Challenger II karena mereka hanya numpang berangkat dari Yunani, “bukan semuanya berkewarganegaraan Yunani.”

Saat berita ini ditulis di buritan kapal puluhan peserta sedang menyanyikan nasyid-nasyid perjuangan di dek 3 buritan, bagian belakang kapal. Diantaranya lagu Lailahaellallah karya penyanyi nasyid terkenal Turki Omar Karaoglu yang juga ikut di Mavi Marmara. Sesekali para peserta itu meneriakkan takbir dan tahlil.

Saat ini Mavi Marmara mematikan mesin dan melepas jangkar, berdampingan dengan jarak kurang lebih 1 kilometer dengan kapal barang Gazze dan Gazze II milik IHH. Kapal ini menunggu dua kapal lain yang akan bergabung, satu dari Irlandia satu dari Yunani. Tidak ada staf IHH dı ruang wartawan yang berwenang menginformasikan kapan kafilah akan bergerak lagi.Beberapa orang peserta nampak asyik memancing di buritan kapal yang lainnya nampak membaca Al-Quran baik di dek dalam maupun luar.
Kronologis Penyerangan Mavi Mamara

Sebelum Serangan

Kapal “Mavi Marmara” yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, Palestina, mulai berlayar meninggalkan Pelabuhan Antalya, Turki, Kamis (27/5) malam waktu setempat, untuk bergabung dengan delapan kapal lainnya di Laut Tengah. Beberapa kapal kemudian akan beriringan menembus blokade Israel menuju perairan sekitar Jalur Gaza yang bisa ditempuh selama 15-20 jam. Pihak IHH sengaja memberangkatkan “Mavi Marmara” di malam hari dengan harapan akan memasuki perairan Gaza sekitar pukul 14.00 waktu setempat.

Mavi Marmara sendiri adalah kapal penumpang sejenis ferry dengan kapasitas penuh 800 orang, namun dengan pertimbangan kenyamanan, pihak IHH membatasi jumlah penumpang dalam misi menembus blokade ini hanya 600-an penumpang. Mereka terdiri dari anggota parlemen dari beberapa negara, artis dan seniman, dan tentunya para aktivis yang bertentangan dengan kebijakan Israel memblokade Gaza.

Pihak Israel sendiri dikabarkan telah menyiapkan angkatan lautnya untuk menggiring kapal-kapal ini menuju Ashdod, sebuah kota pelabuhan kecil di utara Jalur Gaza.Israel akan memaksa rombongan membongkar muatan berupa bantuan itu untuk di antar masuk ke Jalur Gaza, namun IHH menyangsikan kebenaran janji Israel itu.

Bullent Yildirim, dalam konfernsi pers sebelum keberangkatan mengatakan bahwa pihaknya tidak akan mematuhi perintah dari manapun untuk membelokkan arah perjalanan. Tujuan mereka sudah sangat jelas yakni Jalur Gaza dan akan bersama-sama mengatasi rintangan yang dibuat oleh pihak Israel untuk menghalang-halangi masuknya bantuan kemanusiaan bagi bangsa Palestina ini.

PM Turki Perdana Menteri Recep Tayyib Erdogan bahkan jauh hari sudah memperingatkan pihak keamanan Israel untuk tidak menyerang rombongan ini.

Israel mengancam akan mengerahkan 2 atau 3 kapal berisi rakyatnya yang bersenjata dengan tujuan menghalangi masuknya kafilah kapal-kapal kemanusiaan ke Gaza. Kabar ancaman yang disampaikan oleh Presiden IHH (lembaga kemanusiaan internasional terbesar di Turki) Bulent Yildirim itu dijawab oleh sekitar 5 ribu orang dengan meneriakkan takbir dan tahlil saat melepas kapal utama Konvoi Kemanusiaan “Lifeline for Gaza” meninggalkan dermaga pelabuhan Sarayburnu, Istanbul (22/5).

Kapal Mavi Marmara yang bercat putih dan biru muda dan berbendera Turki itu berlayar menuju selatan tepat jam 2 siang (jam 6 sore WIB), menuju pelabuhan Antalya, dan rencananya pada hari Selasa akan melanjutkan perjalanan menembus kepungan Angkatan Laut Israel ke Gaza bersama dengan 8 kapal lainnya dari Turki, Yunani, dan Inggris.Kafilah kapal kemanusiaan ini ditumpangi oleh lebih dari 700 orang aktivis kemanusiaan, anggota parlemen, dan wartawan dari 42 negara. Dari Indonesia telah hadir di Istanbul tim dari KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina), MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan Sahabat Al-Aqsha.

Kafilah kapal kemanusiaan ini membawa muatan lebih dari 20 ribu ton bantuan kemanusiaan berupa bahan bangunan seperti semen dan besi, obat-obatan, peralatan rumah sakit, peralatan sekolah dan kebutuhan gizi balita dan bayi-bayi di Gaza.Bertolaknya Kapal Mavi Marvara diiringi dengan dentuman puluhan mercon berukuran besar yang diledakkan di dekat buritan kapal pesiar berkapasitas 1000 orang itu. Di atas kapal, beberapa peserta konvoi menyalakan asap-asap pengirim sinyal darurat beraneka warna. Di dek belakang kapal ratusan balon berwarna merah-hitam-putih-hijau seperti bendera Palestina dilepas.

Para hadirin yang terdiri dari pemuda, pemudi, orangtua dan anak-anak sudah berkumpul di dermaga sejak jam 9 pagi menyambut diangkatnya jangkar Mavi Marmara dengan pekik yang membahana, “Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar.. Laa ilaaha illa Allahu Allahu Akbar!” Mereka tak henti-hentinya mengibarkan bendera-bendera Palestina, Turki, bendera Tauhid dan bendera negara-negara yang diwakili oleh para peserta konvoi.

Pada saat yang sama lebih dari 20 kapal berukuran kecil yang dipenuhi pemuda-pemudi Turki ikut melepas bertolaknya Mavi Marmara (yang berarti Marmara Biru, diambil dari nama laut Istanbul) menuju Gaza. Mereka ikut meneriakkan yel-yel membela Palestina serta takbir dan tahlil sambil mengibar-kibarkan bendera Palestina dan Turki.

Sudah lebih dari 3 tahun Gaza diembargo secara internasional oleh Israel, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa akibat rakyat Gaza memilih untuk melawan penjajah Israel. Negara Zionis Israel didirikan di atas tanah Palestina sejak 63 tahun yang lalu, dan sejak itu mempertahankan keberadaannya dengan teror, penculikan, penyiksaan, pembunuhan, perampasan rumah dan tanah, serta penghancuran harta benda rakyat Palestina.

Saat serangan

Pasukan komando Israel dengan penutup muka, turun cepat dengan tali dari helikopter. Dalam cuplikan tayangan milik militer Israel, terlihat mereka “disambut” dengan pukulan tongkat oleh penumpang kapal bantuan tujuan Gaza. Saat itu, menurut Israel, pasukan mereka juga berhadapan dengan pisau, tongkat pemukul, bahkan tembakan, sehingga para serdadu balas menembak.Panitia “Flottilla to Gaza” membantah keras pernyataan Israel. “Dalam kegelapan malam, komando Israel turun dari helikopter ke kapal yang ditumpangi warga Turki, Mavi Marmara, dan langsung menembak begitu kaki mereka menjejak,” kata pernyataan kelompok Free Gaza. “Para penumpang melambaikan bendera putih, bukan tongkat pemukul.”

Namun, cuplikan tayangan yang disebarkan militer Israel menunjukkan pasukan itu mendapat perlawanan begitu sampai di dek. Pentungan dan kursi plastik dilemparkan ke komando Israel. “Waktu saya turun saya lihat kenekatan di mata mereka,” kata seorang anggota komando kepada para wartawan di Ashdod, Israel, tempat kapal itu dipaksa berlabuh.

Menurut si serdadu, semua anggota pasukan telah diperintahkan untuk menghidari kekerasan. Mereka dilengkapi dengan senjata peluru cat dan pistol hanya digunakan dalam keadaan ekstrem. “Senjata saya ‘paint gun’ dan tak ada senjata lainnya. ‘Paint gun’-nya juga yang biasa dipakai anak-anak usia 12 tahun,” kata serdadu itu seperti dikutip AFP. “Kami datang bukan untuk bertempur, kami datang untuk mengatakan agar mereka berhenti dan balikkan kapal.”

Kapal itu diseret ke Ashdod, pelabuhan di selatan Israel dengan ratusan penumpang di kapal itu tidak dapat berkomunikasi. Tiga helikopter dan beberapa perahu komando mendekat flottilla sekitar pukul 4 dinihari (Senin 08.00WIB) , kata seorang pejabat militer Israel. Serdadu itu mengemukakan ada 30 aktivis, semuanya berbahasa Arab, diringkus dalam operasi yang tidak sampai dua jam itu.

Beberapa petunjuk mengarah bahwa sebagian besar, atau semua korban tewas, ada di kapal Mavi Marmara yang berpenumpang paling banyak yaitu 700-an aktivis. Menurut Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Letjen Gabi Ashkenazi, keadaan di ferry milik badan amal Islam IHH itu, berbeda dengan lima kapal lainnya. “Begitu pasukan tiba di kapal, ada kekerasan ekstrem. Hal itu sudah dipersiapkan termasuk adanya senjata, batang besi, pisau dan senjata api, mungkin senjata yang dicuri dari tentara,” kata Ashkenazi.

Jumlah Tewas

Jumlah korban tewas dalam penyerangan Kapal Mavi Marmara oleh tentara Zionis Israel, pada Senin subuh, hingga saat ini masih belum jelas karena terputusnya akses informasi dengan kapal tersebut.”Kabar yang kita peroleh, dua syahid (meninggal dunia) dan 30 orang lainnya luka-luka. Kita masih mencari informasi validnya seperti apa dan identitas para korban juga belum diketahui,” kata Wakil Bendahara Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA), Nurdin, yang dihubungi di Jakarta, Senin. Menurut dia, jumlah korban dan identitasnya itu diketahui dari sejumlah pemberitaan melalui internet. Personel KISPA yang ikut dalam Kapal Mavi Marmara berjumlah empat orang yakni Ketua KISPA H Ferry Nur SSi, Wakil Ketua Muhendri Muchtar, Humas Hardjito Warno, serta relawan KISPA Oksianto. Menurut Nurdin, keempat personel KISPA itu berangkat dalam misi kemanusiaan ke Jalur Gaza itu sejak 21 Mei 2010. “Kontak dengan mereka terakhir pada Kamis (24/5) sebelum Kapal Mavi Marmara berlayar,” katanya. Nurdin meminta umat Islam mendoakan para relawan agar selamat dalam menjalankan misi kemanusiaan ke jalur Gaza, Palestia, tersebut. “Seperti dua tahun lalu, walau ada tekanan dan ancaman Israel, Alhamdulillah para relawan bisa masuk Gaza. Israel memang sering mengancam dan hari ini mereka membuktikannya dengan penyerangan. Berita yang kami terima masih simpang siur, kita ingin segera memastikan kabar-kabar itu, termasuk jumlah korban dan identitasnya.

Relawan Mer-C yang berangkat ke Gaza (Dok Mer-C)

Sementara itu, Medical Emergency Rescue Committe (Mer-C) dalam situsnya menyebut serangan tentara Zionis Israel terhadap Kapal Mavi Marmara, kapal bantuan kemanusiaan milik Insani Yardim Fakvi (IHH) Turki mengakibatkan sekitar 10 relawan syahid dan 50 lainnya mengalami luka-luka. Namun sampai saat ini belum ada konfirmasi lebih lanjut mengenai identitas para korban.

Kabar tersebut diperoleh dari informasi terakhir dari “video streaming” yang menayangkan kondisi dan kejadian langsung dari Kapal “Mavi Marmara” yang dapat diakses di website MER-C (www.mer-c.org) dan website IHH (www.ihh.org.tr). Dari tayangan “video streaming” tersebut, terlihat helikopter Angkatan Laut Israel mengelilingi dan mencoba untuk mengintimidasi konvoi kapal yang sedang bergerak menuju Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Beberapa saat kemudian terlihat tentara Israel turun dari helikopter dan memasuki kapal Mavi Marmara yang berisi lebih dari 500 aktivis dan relawan peduli Palestina dari 30 negara. Sejumlah relawan Indonesia yang ikut dalam misi kemanusiaan di kapal tersebut antara lain dari Tim MER-C, KISPA dan Sahabat Al Aqhsa, dan Hidayatullah.com.

Sementara itu, Rini, relawan MER-C yang dihubungi di kantornya mengatakan, pihaknya masih belum menerima kabar terbaru terkait penyerangan oleh tentara Zionis Israel itu. “Kita juga terus menghubungi IHH (Insani Yardim Fakvi), lembaga kemanusiaan Turki yang menjadi koordinator tim bantuan kemanusiaan itu, namun belum ada perkembangan,” katanya.

Empat relawan Mer-C dan satu kamerawan televisi ikut dalam misi kemanusiaan tersebut. Mereka adalah Nurfitri Taher (Upi) yang merupakan “project officer Mer-C”, tenaga medis Arief Rahman, tenaga mekanik Nur Ikhwan Abadi, tenaga non medis Abdillah Onim yang akan ikut mendirikan rumah sakit di Gaza, serta wartawan TVOne M Yasin.

Kementerian Luar Negeri mengatakan kepergian relawan Warga Negara Indonesia dalam rombongan Armada Kebebasan ke Gaza tidak direkomendasikan Pemerintah. “Karena situasi Gaza bahaya, ada blokade laut oleh pasukan Israel,” kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Teguh Wardoyo di kantornya di Jalan Pejambon, Jakarta, hari ini (1/6). Menurut Teguh, pada 18 Mei 2010, lima orang sukarelawan dari MER-C mengirim surat pemberitahuan ke Kementerian Luar Negeri atas rencana mereka. Kelima orang tersebut adalah Nur Fitri Moeslim Taher (ketua tim), Dr. Arief Rachman, Abdillah Onim (logistik dan penerjemah), Nur Ikhwan Abadi (insinyur), dan Muhammad Yasin (jurnalis TV One).

Esoknya, Kementerian membalas surat tersebut dan menyatakan tidak merekomendasikan kelimanya untuk pergi ke Gaza. “Tapi Pemerintah tidak bisa berbuat banyak, apapun pertimbangannya, jika WNI bersikukuh untuk pergi, itu hak mereka,” ujar Teguh. Rombongan Armada Kebebasan tidak hanya membawa lima WNI yang mengirim surat pemberitahuan ke Kementerian. Total ada 12 WNI yang ikut dalam rombongan. Tim lainnya berasal dari Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa) dan Sahabat Al-Aqsa. Mereka adalah Ferry Nur, Muhendri Muchtar, Hardjito Warno, dan Oktaviano ikut dalam tim Kispa. Sementara, Dzikrullah, Santi Soekanto, dan Surya Fachrizal ikut dalam tim Sahabat Al-Aqsa. Hingga kini, 12 WNI masih ditahan Pemerintah Israel. Kementerian Luar Negeri belum bisa melakukan komunikasi langsung dengan mereka. “Ada kesulitan komunikasi karena kita tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel,” kata Teguh.

Pemulangan 12 relawan dan jurnalis asal Indonesia yang ditangkap Israel, akan diatur oleh Kedutaan Besar RI yang ada di Amman, Yordania. “Teknis diatur nanti, tapi urusan dengan Palestina, kedutaan kita di Amman, Yordania, akan menangani. Jadi itu di bawah kedutaan di Amman, dan karena itulah, secara teknis mereka yang akan mengatur dan telah membentuk task force di KBRI mengurus masalah ini,” ujar Juru Bicara Kepresidenan Dinno Pati Jalal di Kantor Presiden, Selasa (1/6/2010).

Lebih kanjut, Dinno menuturkan posisi Indonesia tegas mengecam dan mengupayakan jalur diplomasi di forum internasional. Israel, tegas Dinno, tidak memiliki hak untuk menyerang dan melukai para relawan yang membawa bantuan kemanusiaan untuk masyarakat Gaza, Palestina. “Karena Israel tidak punya hak untuk menyergap, menyerbu, apalagi melukai kapal asing yang bertujuan damai untuk menyerahkan 10 ribu ton bantuan ke Gaza untuk rakyat Palestina yang menderita di Gaza dan menembus blokade yang tidak punya landasan hukum internasional,” papar Dinno. Dinno juga menambahkan Pemerintah mendesak agar para relawan yang bertujuan baik segera dibebaskan. “Kalau kita lihat, ini rare, jarang jadi seruan internasional dari berbagai penjuru negara,” ungkapnya

Seorang warga Australia tertembak di kakinya saat penyerbuan komando Israel ke kapal bantuan tujuan Gaza, kata menteri luar negeri Australia Stephen Smith, Selasa. Korban telah mendapat perawatan di rumah sakit sedangkan dua wartawan Australia di konvoi kapal “flottilla to Gaza” tersebut selamat. “Kami, lewat para petugas kami, sepenuhnya berusaha mengetahui keberadaan dan keadaan warga Australia lainnya,” kata Smith kepada ABC seperti dikutip AFP. “Mengenai dua wartawan, kami tahu mereka selamat. Kami cemas dengan warga yang cedera tapi sejauh ini dia telah mendapat pendampingan konsuler,” kata Smith. Menlu Australia mengatakan bahwa Israel harus melakukan penyelidikan yang “dapat dipercaya dan transparan” serta harus memberi penjelasan detail.

Bantahan Israel

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin menyampaikan “penyesalan” atas jatuhnya korban jiwa dalam penyerbuan ke konvoi kapal bantuan tujuan Gaza. Namun, ia mengemukakan para serdadu Israel bertindak untuk “mempertahankan diri”. “Kami menyesalkan jatuhnya korban jiwa,” kata Netanyahu di Ottawa saat pertemuan dengan Perdana Menteri Kanada Stephen Harper seperti diberitakan AFP. “Serdadu kami terpaksa mempertahankan diri supaya tidak kehilangan nyawa,” kata Netanyahu. PM Israel tersebut mempersingkat kunjungan ke Kanada dan menunda rencana ke Washington setelah insiden penyerbuan tersebut.

Netanyahu mengatakan bahwa pasukan komando Israel yang menyerbu kapal diserang oleh aktivis pro-Palestina saat tiba di kapal. “Mereka dengan sengaja menyerang para tentara, para tentara diserang dengan pentungan, dipukuli dan ditusuk, bahkan ada laporan tentang adanya tembakan,” kata Netanyahu.

foto Gambar di samping adalah cuplikan foto dari Video penyerangan tentara Israel ke kapal Mavi. Marmara yang membawa relawan pembawa bantuan kemanusiaan untuk Palestina. Israel merilis video penyerangan kapal berisi relawan pembawa bantuan kemanusian yang tergabung dalam Armada Kebebasan di antaranya kapal Mavi Marmara. Dalam video tersebut, tampak tentara Israel dipukuli dengan pipa dan kursi. Pada Senin, Israel menyerang enam kapal yang membawa ratusan aktivis pro-Palestina dan relawan pembawa bantuan kemanusiaan. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai belasan orang lainnya. Akibatnya, dunia mengecam kekejaman Israel tersebut.

Sementara pihak Israel mengatakan sedikitnya lima tentara mereka terluka, dua di antaranya terluka serius. Menurut militer Israel, dua aktivis yang tewas dalam insiden tersebut menembak tentara dengan pistol. “Mereka merencanakan serangan ini,” ujar juru bicara militer Israel Letnan Kolonel Avital Leibovitch. “Tentara kami terluka karena kena pisau dan benda-benda besi.”

Kapal yang diserang tentara Israel akhirnya digiring ke Pelabuhan Israel di Ashdod. Sementara korban luka dievakuasi dengan helikopter ke rumah sakit di Israel. Belum diketahui secara detail identitas korban tewas atau kondisi beberapa orang terkenal yang ikut dalam konvoi tersebut. Beberapa tokoh yang ikut di antaranya peraih Nobel Perdamaian 1976 Mauread Corrigan Maguire dari Irlandia Utara dan legislator Eropa Hedy Epstein.

Dalam salah satu konvoi delapan kapal Armada Kebebasan (Freedom Flotilla),yang membawa bantuan untuk warga Gaza, ada 12 warga Indonesia yang belum diketahui nasibnya. Ke-12 warga Indonesia itu berasal dari lembaga swadaya masyarakat, yakni Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa) dan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) serta lima wartawan, yaitu Al-Jazeera Indonesia, TV One, Hidayatullah.com, majalah Alia, dan Sahabat Al-Aqsha

VIDEO: PENYERANGAN TENTARA ISRAEL KE KAPAL MAVI MARMARA
Reaksi Dunia Internasional

Dewan Keamanan PBB

Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan pernyataan yang menyerukan penyelidikan imparsial dalam serangan Israel terhadap armada Kapal bantuan untuk Gaza.Pernyataan itu mengatakan penyelidikan harus “cepat, tidak memihak, kredibel dan transparan”. Pernyataan tersebut diambil setelah berjam-jam diskusi ketika dewan membahasnya sepanjang malam. Setidaknya sembilan aktivis tewas ketika pasukan Israel menyerbu kapal-kapal di perairan internasional.

Pernyataan tersebut adalah hasil kompromi antara Turki dan Amerika Serikat, dengan Turki enggan untuk mengkritik lebih tajam terhadap Israel, sementara Amerika Serikat, sekutu Israel yang paling dekat, dengan bahasa yang digunakan ingin marah, kata wartawan BBC untuk PBB Barbara Plett di New York. Dewan Keamanan meminta segera dibebaskannya kapal serta serta warga sipil yang ditahan oleh Israel.

Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang darurat, Senin waktu setempat, membahas kebrutalan Israel terhadap relawan bantauan kemanusiaan Gaza serta melakukan investigasi. Menyusul pertemuan terbuka 90 menit, Dewan dengan anggota 25 negara itu juga melakukan konsultasi tertutup. Para diplomat mengatakan sejumlah utusan khusus mengajukan tawar menawar soal pernyataan yang disampaikan oleh Dewan.

Marinir Israel menyerbu kapal bantuan Turki untuk Gaza, Senin. Dalam insiden tersebut, militer Israel mengatakan sedikitnya sembilan aktivis proPalestina tewas. Menurut pejabat senior Israel, seluruh korban tewas adalah warga Turki. Kejadian ini mengundang protes secara meluas. Anggota Dewan mengritik aksi Israel serta meminta negeri Zionis itu mencabut blokade yang sudah berlangsung selama tiga tahun terhadap Gaza yang dikuasai Hamas.

“Ini sama saja dengan kelakuan bandit dan pembajak,” kata Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu kepada Dewan. “Ini pembunuhan yang dilakukan oleh negara.” Amerika Serikat selaku sekutu utama Israel di Dewan berbicara hati-hati. Wakil duta besar di PBB Alejandro Wolf di Washington menyesalkan hilangnya nyawa dan menginginkan adanya penyelidikan “kredibel dan transparan” oleh Israel.

Tetapi mengritik upaya armada bantuan kemanusiaan mencoba menerobos blokade Israel di Gaza. “Bantuan pengiriman langsung melalui laut adalah tidak tepat dan tidak bertanggung jawab, dalam situasi seperti ini jelas tidak efektif,” katanya. Wakil duta besar Israel Daniel Carmon mengatakan, misi armada kemanusiaan tersebut “ada sesuatu”. Penyelenggara “menggunakan kedok bantuan kemanusiaan untuk mengirimkan pesan kebencian dan melaksanakan kekerasan,” ujarnya.

Penyelenggara bantuan, di antaranya terkait dengan organisasi teroris telah memaksa Israel memulai operasinya. HaL itu dimaksudkan sebagai “langkah preventif untuk melawan penerobos blokade,” kata Carmon. Para diplomat mengatakan, poin yang perlu disampaikan dalam proposal Dewan antara lain perlunya investigasi yang independen dan bagaimana menyalahkan insiden tersebut.

Pertemuan darurat Dewan berlangsung atas permintaan Lebanon dan Turki, kedua negara merupakan anggota tidak tetap Dewan. Sementara itu, peninjau tetap Palestina di PBB Riyad Mansour mengatakan kepada para wartawan sebelum pertemuan bahwa dia ingin melihat “hasil yang menentukan, suatu reaksi yang akan membawa Israel ke pangadilan dan mengutuk tindakan itu.” Mansour hadir mewakili Otoritas Palestina yang tidak menguasai Jalur Gaza, secara de facto kawasan ini diperintah oleh kelompok militan Hamas. Blokade Gaza Israel mengundang kritik dari para pejabat PBB yang menyebut insiden tersebut sebagai krisis kemanusiaan. Namun sebaliknya, Carmon mengatakan “Tidak ada krisis kemanusiaan di Gaza.”

Sebelumnya, Menteri luar negeri Turki menyebut aksi Israel sebagai “pembunuhan oleh negara”. Utusan Israel untuk PBB mengatakan, pasukan bertindak untuk membela diri ketika aktivis menyerang mereka. Bagi Israel, ada kemungkinan menjadi konsekuensi buruk dalam diplomasi. Tekanan untuk mengakhiri blokade Gaza akan meningkat–dari sekutu Israel, serta musuh-musuhnya. Kerusakan atas apa yang tersisa dari aliansi Israel dengan Turki sangat serius. Turki penting karena sebagai perantara Eropa dan Muslim Timur Tengah–dimana berpengaruh nyata dalam diplomatik. Israel selalu mengandalkan dukungan pada Turki, sekarang tidak mungkin lagi.

Satu pertanyaan adalah seberapa kuat Amerika Serikat mencoba mempertajam kritik bagi Israel. Hubungannya sendiri dengan Israel sudah dalam krisis. Pembicaraan mereka mensponsori perdamaian antara Israel dan Palestina mungkin akan dilanjutkan, tetapi dibawah awan yang bahkan lebih gelap. “Armada (kapal) itu sesuatu tapi misi kemanusiaan,” kata wakil Duta Besar Israel untuk PBB Daniel Carmon. Dia mengatakan para aktivis telah menggunakan “pisau, tongkat, dan senjata lain” untuk menyerang para prajurit yang naik ke kapal terdepan, Marmara Mavi.Para pegiat kemanusiaan bersikeras tentara menembak tanpa provokasi apa pun.

Beberapa dari lebih 600 pengunjuk rasa di atas kapal, termasuk mantan duta besar AS, akan dideportasi, sementara yang lain sedang ditahan dan diinterogasi di Penjara Beersheva di Israel selatan, kata laporan BBC dari Gaza. Israel telah memberlakukan “pemadaman” informasi, sehingga sulit untuk mengumpulkan informasi tangan-pertama dari para pegiat kemanusiaan. Kapal-kapal itu membawa 10.000 ton bantuan dalam upaya untuk memecahkan blokade Israel tiga tahun di Jalur Gaza. Israel mengatakan akan menyerahkan bantuan kapal kargo ke Gaza hari Selasa melalui jalur darat. Pemerintah Israel kini terlibat dalam pertempuran kehumasan berusaha untuk menempatkan seluruh versinya terkait peristiwa itu, mereka telah merilis gambar video yang menunjukkan demonstran di atas kapal bantuan menyerang beberapa dari petugas mereka. Kemudian pada hari Selasa, duta besar NATO akan mengadakan pembicaraan darurat atas permintaan Turki untuk membahas serangan itu.

Protes Global

Sesi pembicaraan darurat Dewan Keamanan dilanjutkan di balik pintu tertutup di kantor pusat PBB di New York. Negara anggota memperdebatkan suatu reaksi mungkin untuk Israel yang membunuh sembilan aktivis pro-Palestina di perairan internasional. Sebagian besar aktivis yang tewas diyakini orang Turki, dan Turki memimpin paduan suara kritik Israel di PBB. Ehud Barak: “Saya berharap bahwa akal sehat akan menang.” “Dalam istilah sederhana, ini sama saja dengan bandit dan pembajakan. Ini adalah pembunuhan yang dilakukan oleh negara,” kata Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu menjelang sesi itu.

Mr Davutoglu mengatakan kepada BBC bahwa Israel harus mengeluarkan permintaan maaf langsung untuk penyerbuannya atas kapal bantuan dan memulangkan para pegiat pro-Palestina. Tak satu pun dari 15 anggota Dewan Keamanan vokal dalam pernyataan individualnya, tapi sebagian beser menyerukan sebuah penyelidikan penuh dan kritis terhadap tindakan Israel. Banyak–termasuk anggota pemegang hak veto seperti Prancis, Rusia dan Cina–juga menuntut mengakhiri blokade Israel di Gaza dimana kapal-kapal bantuan mencoba menerobosnya.

Reaksi Amerika

Sekutu terdekat Israel, Amerika Serikat, mengungkapkan keprihatinan, meskipun wakil duta besar AS untuk PBB Alejandro Wolff mengatakan masih belum jelas apa yang telah terjadi. “Amerika Serikat sangat terganggu oleh kekerasan terbaru itu dan menyesalkan hilangnya nyawa secara dan yang cedera di antara mereka yang terlibat dalam insiden tadi malam, kapal-kapal bantuan-Gaza,” katanya.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tentang pentingnya untuk mengetahui “semua fakta” secepat-cepatnya atas peristiwa penyerbuan konvoi kapal bantuan tujuan Gaza. Gedung Putih mengemukakan, Obama dan Netanyahu berbicara lewat telefon. PM Israel telah membatalkan kunjungan ke Washington sehubungan peristiwa itu. “Presiden sangat menyesalkan adanya korban jiwa dan prihatin terhadap mereka yang luka, yang sebagian besar kini dirawat di rumah-rumah sakit Israel,” kata pernyataan Gedung Putih seperti dikutip AFP. “Presiden juga menyampaikan tentang pentingnya mempelajari semua fakta dan situasi di seputar kejadian tragis tersebut secepat-cepatnya.”

Departemen Luar Negeri AS telah menyampaikan bahwa mereka sangat menyesalkan tragedi yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka dan menyerukan adanya “penyelidikan penuh dan kredibel” oleh pemerintah Israel. Jurubicara Deplu AS mengemukakan “sangat prihatin dengan penderitaan warga sipil di Gaza” dan terus berusaha menyediakan “akses yang memadai bagi bantuan kemanusiaan,” di daerah itu.”Di sisi lain, turut campurnya Hamas terhadap kiriman bantuan-bantuan internasional maupun kerja dengan organisasi nonpemerintah, serta penggunaan dan pengesahan kekerasan, berlawanan dengan usaha-usaha untuk Gaza,” kata jurubicara tersebut.

Nato Darurat

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dijadwalkan mengadakan pertemuan darurat Selasa atas permintaan Turki untuk membahas serangan mematikan Israel terhadap armada kapal yang membawa bantuan untuk Jalur Gaza, kata juru bicara James Appathurai. “Perencanaan sedang dilakukan untuk sebuah pertemuan… yang diadakan atas permintaan pemerintah Turki besok sore,” kata Appathurai kepada AFP, Senin. Pertemuan itu akan diikuti oleh para duta besar dari 28 negara anggota NATO di markas besar organisasi itu di Brussel.

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada wartawan di Santiago, Chile, pemerintahnya meminta pertemuan dewan NATO untuk membahas krisis itu, yang telah membuat PM Israel Benjamin Netanyahu mempersingkat lawatannya ke Kanada. Netanyahu juga dikabarkan membatalkan lawatannya ke Washington, dimana ia dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Barack Obama pada Selasa. Appathurai mengatakan dalam sebuah pernyataan, aliansi militer itu “sangat khawatir atas hilangnya nyawa” di perairan internasional. Israel mengklaim sedikitnya sembilan orang tewas dalam serangan angkatan laut Israel terhadap konvoi kapal yang membawa bantuan untuk Jalur Gaza pada Senin pagi.

“NATO sungguh-sungguh tidak memiliki sarana untuk menindaklanjuti masalah semacam ini,” kata seorang diplomat. “Turki tidak menunjuk pada Pasal Lima yang menetapkan semua sekutu membantu sebuah negara anggota yang menjadi korban serangan,” kata diplomat itu. “Namun, mengingat banyaknya warga negara Turki yang menjadi korban, maka bisa dimengerti bila Ankara meminta dialog politik dengan mitra-mitranya,” tambah diplomat itu.

Operasi Israel yang menelan korban jiwa terhadap kapal-kapal yang membawa bantuan kemanusiaan di Gaza, mungkin akan memberikan “konsekuensi yang tidak dapat diperbaiki” dalam hubungan bilateral, kata kementerian luar negeri Turki, Senin (31/5). “Dengan mentargetkan para warga sipil, Israel kembali menunjukkan negara itu tidak mempedulikan nyawa manusia dan prakarsa perdamaian. Kami mengutuk keras perbuatan-perbuatan Israel yang tidak manusiawi,” kata sebuah pernyataan tertulis seperti dilaporkan AFP. “Insiden yang sangat disesalkan ini, yang terjadi di laut terbuka dan melanggar hukum internasional, mungkin akan memiliki konsekuensi-konsekuensi yang tidak dapat diperbaiki dalam hubungan bilateral kita.” katanya. Ankara meminta penjelasan insiden itu dari dubes Israel Gabby Levy, yang dipanggil ke kementerian luar negeri, kata pernyataan itu. “Apapun alasannya, tindakan terhadap warga-warga sipil yang terlibat dalam kegiatan damai tidak bisa diterima. “Israel akan memikul konsekuensi-konsekuensi atas tindakannya ini, yang melanggar hukum internasional,” kata pernyataan itu. Kementerian itu mengatakan paling tidak dua orang tewas dan lebih dari 30 lainnya cedera ketika pasukan Israel menyerbu armada kapal yang termasuk kapal Turki mengangkut para aktivis dan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, kata informasi sebelumnya.

Pesan Terakhir Relawan Indonesia di Mavi Marmara: Kami Diserang

Israel Tak Bisa Dibawa ke Mahkamah ...


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar